Daydream
月曜日, 3月 30, 2009
yellow-y passion
this blog used to house my musings and [unnecessary] updates of my life until some point when it got too bland that i lost my energy to spice it up. but now i plan to write again (don't worry, not my bland life this time)... just for the sake of my recent craze about yellows... and event design.
木曜日, 5月 24, 2007
yes, i used to blog
maybe you should just look up here... while i am... uh... uh... vacationing... :)
木曜日, 4月 19, 2007
hero vs. villain

salah satu kekhawatiran terbesar yang jadi pertimbangan sebelum memutuskan memilih pekerjaan sekarang adalah faktor keamanan. waktu menulis email untuk "melamar" pekerjaan, tak terlintas di kepala seperti apakah kondisi philadelphia dan, terutama, kondisi kampus. yang jadi pertimbangan waktu itu hanyalah: betulkah aku "mau" tinggal di "negeri" itu? :) tapi setelah mendapat balasan dan diwawancarai, mulailah aku menelusuri informasi tentang suasana kampus dan suasana kota... dan terkaget karena menemukan hasil penelusuran didominasi info dan image negatif, bahkan untuk pertama kalinya dalah sejarah penelusuran aku menemukan bahkan residents memberikan semacam peringatan untuk tidak berkunjung ke bagian2 tertentu di dalam kota karena faktor keamanan. terlebih, lokasi kampus di-klaim sebagai "tepi" daerah tak aman. ketika memasukkan nama gedung tempat kerjaku sekarang ke dalam mesin pencari, info pertama yang keluar adalah tentang kasus penembakan yang terjadi di dalam gedung. that was, somehow, new to me.
keputusan sudah diambil. aku bekerja disini sekarang, bergelut dengan riset, mengajar dewasa-muda dengan berbagai latar belakang budaya. jujur, hingga saat ini aku tak pernah dirisaukan dengan masalah keamanan, walau sesekali menerima email2 pemberitahuan tentang kasus penembakan di gedung sebelah dan pusat belanja di seberang jalan atau penyerangan seksual terhadap mahasiswi di dalam kampus. tapi setelah kasus penembakan massal di virginia tech beberapa hari lalu, mau tak mau aku kembali sedikit alerted. kejadian itu bisa saja terjadi di sini, di kampus ini. dia bisa saja salah satu mahasiswa yang duduk di kelasku. bisa saja.
satu yang menjadi kekhawatiranku sekarang tentang kasus itu adalah media coverage. ketika membuka yahoo! mail, yang muncul di halaman pertama adalah foto si gunman; duduk di ruang tengah menghirup teh di depan televisi, sangat sulit menemukan channel yang tak sedang membahas kasus itu, dari berbagai aspek. foto, video, dan bahkan scripts yang ditulis si gunman diekspos sedemikian hingga kita (aku) tak bisa lagi menghindar darinya. dan "bang!" si gunman pun menjadi selebriti. adalah sangat mungkin akan ada orang2 tertentu, yang mungkin mengalami/memiliki situasi serupa, tak bisa lagi melihat batas yang jelas antara dia sebagai villain dan sebagai hero (sebagaimana dia sendiri mengacu pada pelaku tragedi columbine). bahkan general public secara tak sadar mendapatkan "enjoyment" dari setiap update tentang si gunman, dari melihat foto2 dan video yang dia kirim. bagiku situasi ini mirip dengan kontroversi jual-beli barang milik serial killers. banyak orang mempertanyakan mengapa ada yang gemar mengoleksi (baca: membayar mahal) barang2 milik serial killers, bukankah tindakan itu sama saja dengan menjadikan villain sebagai hero? well, begitu pun dengan kasus va tech. aku yakin inilah yang dia inginkan dengan mengirim foto/video/manifesto ke NBC, agar dia bisa dianggap sebagai "hero" setidaknya oleh orang2 tertentu. dan kita tak perlu turut serta mengikuti plot yang dia buat, toh?
bisakah?
==
illustration from gettyimages
月曜日, 4月 09, 2007
mencumbui laut

kau (mengecupmu serupa mencium laut) hadiahi aku kilau emas sinar mentari setiap minggu pagi, dan kita akan membagi cinta di depan televisi. kau. mentari.
“jangan kurung aku dalam sangkar, sayang…” pintamu.
kau (mengecupmu serupa mencium laut) suarakan kasih dengan tenang. kasih yang tenang, yang ejawantahnya bak kilau emas mentari minggu pagi yang menyusup di sela-sela tirai ‘tuk menjadi saksi saat kita membagi cinta di depan televisi. membagi cinta, tak menggenggam kasih. kau. kasih.
“beri aku samudera yang lapang, sayang…” pintamu lagi.
kau (bermain di bahumu… serupa mencumbui laut) tangisi sabtu dan selasa, juga malam dan senja, dan segala hal yang tak ‘kan pernah jadi milik kita. kau. mentari. kasih. dan laut.
“berlarilah menuju penjuru cemburu, sayang…” aku membisikimu, “hanya dengan itu kau akan tahu beda kasih dari cinta…”
kau… aku pasti ‘kan merindu mencumbui laut… di bahumu.
==
illustration from GettyImages
“jangan kurung aku dalam sangkar, sayang…” pintamu.
kau (mengecupmu serupa mencium laut) suarakan kasih dengan tenang. kasih yang tenang, yang ejawantahnya bak kilau emas mentari minggu pagi yang menyusup di sela-sela tirai ‘tuk menjadi saksi saat kita membagi cinta di depan televisi. membagi cinta, tak menggenggam kasih. kau. kasih.
“beri aku samudera yang lapang, sayang…” pintamu lagi.
kau (bermain di bahumu… serupa mencumbui laut) tangisi sabtu dan selasa, juga malam dan senja, dan segala hal yang tak ‘kan pernah jadi milik kita. kau. mentari. kasih. dan laut.
“berlarilah menuju penjuru cemburu, sayang…” aku membisikimu, “hanya dengan itu kau akan tahu beda kasih dari cinta…”
kau… aku pasti ‘kan merindu mencumbui laut… di bahumu.
==
illustration from GettyImages
火曜日, 3月 20, 2007
jatuh ke bumi, tanpa bunyi

kau semula, adalah senyum sapa. matamu telaga, tuturmu undang derai tawa. kau semula, adalah teduh nan jenaka.
kau berlari bersama hari, menyeretku yang berjalan pelan untuk turut mempercepat langkah kaki. hingga suatu ketika di penghujung senja, kita ada di sana, di perhentian kereta nomor dua. kulihat riak di telaga matamu… oh, luapan airnya tak lagi mampu kau bendung ketika hatimu mulai menuai harap dari helai-helai rambutku yang saat itu dipermainkan bayu.
kau semula, adalah senyum sapa, tutur kata, dan derai tawa. kau yang berlari bersama hari, menjelma menjadi ksatria yang mempersenjatai diri melawan kata hati. kau kini, adalah pecinta yang berurai air mata.
“kaukah itu?” seru hatiku. “kemari! aku ‘kan memayungimu dari hujan bimbang yang datang tak diundang…”
kau semula, adalah jabat hangat. lengan kokohmu adalah penyedia sentuh dan dekap.
kau bergegas bersama waktu, menuntunku yang berdiri kaku untuk kembali berjalan menjajarimu. hingga satu tengah hari di tepi mimpi… lengan itu melunglai setiap kali kucoba meraih mereka dalam rengkuhku.
kau semula, adalah penyedia tentram dalam jabat, sentuh, dan pelukan hangat. kau yang bergegas bersama waktu, menjelma menjadi tubuh yang mengigil dalam terik; meringkuk dalam lapang. kau kini, adalah pengagum yang ketakutan.
“kemari, sayang…” aku memintamu, “aku ‘kan menghadiahimu sejuta kecupan…”
aku semula, adalah senyum sapa, rinai tawa, dan jabat mesra. aku berlari bergegas menjajari langkah kakimu, merengkuh lengan kokohmu, dan bertukar tatap dengan mata telagamu. aku kini, adalah pecinta… yang membantumu melucuti senjata dan mengusap air mata…
…aku ada bersamamu, hingga nanti... saat cinta kita yang rapuh… jatuh ke bumi… tanpa bunyi.
火曜日, 1月 23, 2007
sejati

coba tanyakan pada bintang, sayang...
begitu kata hatiku, menjawab tanya hatimu tentang warna langit esok hari. butiran salju yang mengeras membuat suara tak-tik-tuk di atap balkon tempat kita berdiri berjajar. bahu kita merapat, saling menularkan hangat. kamu tersenyum tanggung. aku memahatnya di dekat pahatan bening matamu. jemari kita saling menyentuh, hanya di ujung-ujungnya saja. tangan kita tak berusaha saling menggenggam, karena kita sama-sama tahu akan ada saat untuk kita harus saling melepaskan. tak mengapa, seperti ini saja. sejati tak harus selalu dibumbui kata.
begitu kata hatiku, menjawab tanya hatimu tentang warna langit esok hari. butiran salju yang mengeras membuat suara tak-tik-tuk di atap balkon tempat kita berdiri berjajar. bahu kita merapat, saling menularkan hangat. kamu tersenyum tanggung. aku memahatnya di dekat pahatan bening matamu. jemari kita saling menyentuh, hanya di ujung-ujungnya saja. tangan kita tak berusaha saling menggenggam, karena kita sama-sama tahu akan ada saat untuk kita harus saling melepaskan. tak mengapa, seperti ini saja. sejati tak harus selalu dibumbui kata.
登録:
投稿 (Atom)
ブログ アーカイブ
Others
- Berbagi Kisah
- bloGOMBAL
- Cerita Sembarangan!
- the days after
- ditochan
- Every day has its own story
- fUNKy+BLegUg=LifeInSendai
- Istri Bawel
- Jempolkaki
- Kamar Cewek
- loucee says
- Luigi Pralangga
- ndobos pol
- Negeri Senja
- on becoming a woman
- R&D - foodblog
- sepatumerah
- sLesTa
- Suami Gila
- Touristic Terroir
- un macchiato
- Whoa, Blog!
- yack yack yack...
- You said "Why?", I said "Why not?"
自己紹介
- iisy
- indonesian, living in philadelphia, tourism researcher, urban tourist, true lover of heels (as you may guess, i'm petite)